Potensi Open Atrium
Open Atrium adalah aplikasi intranet open source berbasis Drupal yang dapat dioptimalkan sebagai sistem kolaborasi berbasis group. Fiturnya cukup lengkap; blog, sharing dokumen, kalender, To Do List (Task Manager) + Project, Case Tracker, dan Shoutbox.
Saya sendiri sudah menginstall Open Atrium secara lokal dan online sekaligus. Tujuan utama tak lain agar lebih mengenal sistem + pengujian dalam kondisi yang lebih mendekati lingkungan sistem yang sebenarnya, lengkap dengan simulasi penggunaan oleh beberapa user (simulasi tim) — untuk yang satu ini saya meminta bantuan beberapa teman.
Poin -poin penting yang ingin diketahui dalam pengujian ini diantaranya; proses instalasi (mudah, sulit atau ada masalah lain?), konfigurasi sistem aplikasi, pembuatan group, sistem membership, sharing dokumen/file, simulasi penyusunan proyek - case tracking + penugasan tugas ke member secara spesifik dan blog.
Hasilnya cukup positif dan potensial, meski masih ada beberapa masalah yang sampai sekarang belum saya temukan solusinya (ps: masih dicari).
Kompas.com - Klik menu Kompas.com, Lempar ke Jendela Baru
Ini keterlaluan. Saya mencoba kembali ke halaman depan dengan mengklik link Kompas.com yang ada di atas logo, eh ujung-ujungnya malah di lempar ke jendela baru. Saya sudah selesai baca berita, sekarang ingin kembali ke halaman depan, tapi kenapa pengunjung dilempar ke halaman baru? Apa maksudnya? Kan halaman ini sudah selesai “dikonsumsi”? Ngapain kompas memaksa pengunjungnya untuk tidak meninggalkan halaman ini? Apa sih susahnya mengikuti aturan dan etika navigasi web yang sudah standard? Kalau tujuannya untuk membangun loyalitas pengunjung, maka ini bukan jalan yang benar. 100% salah!
Kompas.com - Link Berita Benar, Tapi Salah Konten
Kelas kompas.com pun bisa teledor. Hari ini ada dua berita di situs ini yang salah update konten. Linknya sudah benar, tapi isinya salah. Berita tentang Chris John justru berisi berita tentang Megawati, dan sebaliknya. Ah, mungkin tim redaksinya sedang mengantuk? Ayo mas, bangun, ganti isinya, biar tidak kena SP (hehe)
Jangan Paksa Saya Membuka Jendela Baru (Bila Membuka Link di Situs Anda)
Jangan melempar saya ke jendela baru bila mengklik sebuah link di situs Anda tanpa “alasan” yang jelas. Apalagi bila itu dimaksudkan untuk mempertahankan pengunjung situs Anda agar tidak lari kemana-mana.
Tahukan Anda apa nilai yang terkandung dari opsi “Open Link in New Window/Tab” yang muncul ketika kita mengklik kanan sebuah link? Itu artinya sebuah penghargaan atas makna kebebasan dan kenyamanan bagi para pengunjung situs Anda.
Link selalu menuju ke suatu tempat. Bila saya merasa nyaman di suatu halaman situs Anda dan merasa enggan untuk meninggalkannya, maka opsi Open Link in New Window/Tab akan saya pilih bila pada saat yang sama ternyata saya menemukan link yang menarik dan ingin mengklik-nya. Jangan khawatir, saya tidak akan pergi tanpa permisi, bahkan mungkin saja tombol Bookmark, atau bahkan berlangganan konten via RSS. Selamat, itu artinya situs Anda bisa dibilang berharga buat saya.
Namun, bila Anda ternyata lebih sering melempar saya ke jendela baru, mungkin dengan maksud agar halaman situs Anda tidak segera ditinggalkan, maka itu artinya situs Anda masuk kategori situs yang menjengkelkan sekalipun mungkin kontennya sangat menarik. Jangan berharap saya akan menjadi merasa betah berada dalam situs Anda.
Bila seperti ini yang terjadi, maka saya akan open link in new tab and close my previous tab! Ini artinya; I’m about to say goodbye to your page or worse; the whole of your site straight away!
Jadi, alih-alih mempertahankan pengunjung untuk berlama-lama, justru keadaan sebaliknya yang lebih mungkin terjadi.
Siapa saya? Tak lebih dari seorang pengguna internet seperti pada umumnya. Seorang pengguna internet selalu ingin merasa nyaman di setiap situs yang dikunjungi tanpa perlu ada perlakuan khusus (memangnya ada tamu situs yang berstatus VIP? semua sama bukan?).
Walau begitu, bukan berarti saya adalah seorang net user yang amat alergi dengan hal seperti ini. Dalam kriteria tertentu, saya akan maklum untuk menerimanya.
Saya akan memaklumi bila melempar ke jendela/tab baru diperuntukan untuk link eksternal. Ini hal yang sangat wajar dan juga 100% hak sang pemilik situs. Tapi ini tidak akan berlaku bila ada link normal yang diset untuk membuka jendela/tab baru walau masih dalam situs yang sama. Inilah biang keladinya!
Sadarilah bahwa browser memiliki fasilitas back button (dan sebaliknya), history dan bookmark. Tiga fasilitas itu disediakan bukan hanya untuk pengunjung situs, tapi juga untuk Anda, sang pemilik situs!
Pengunjung akan menekan tombol back bila merasa perlu harus kembali (dalam sesi yang sama), mengecek history bila ingin mengetahui halaman web yang telah dibuka sebelumnya (dalam sesi yang berbeda) dan akan menekan tombol bookmark bila situs Anda memang berharga.
Jadi, berikanlah kebebasan penuh pada pengunjung situs. Terimalah pengunjung dengan ramah, dan biarkan untuk melakukan apa saja. Tariklah minat pengunjung dengan konsep navigasi yang jelas dan santun agar bisa dengan leluasa mengeksplorasi isi situs Anda.
Membayangkan Windows 7 Dijual Tanpa Browser IE
Sekitar dua hari kemarin, saya sempat berita dalam running news MetroTV; Windows 7 akan dipasarkan di kawasan Eropa tanpa browser IE! Wah, beneran nih?
Secara refleks, saya berkomentar pada teman disamping “Wah, nanti gimana ya caranya kalau pengin download Firefox?” Haha… Maklum, lelucon IE sebagai Firefox Download Utility masih cukup membekas dalam ingatan.
Tekanan yang sangat kuat nampaknya berhasil memaksa Microsoft mengambil keputusan yang menurut saya adalah langkah yang sangat ekstrim.
Pada satu sisi, ini menjadi kabar bagus untuk menjaga kondusifitas persaingan pasar browser. Tak ada lagi monopoli dari raksasa Microsoft. Namun di sisi lain, ini akan menjadi masalah baru bagi pengguna secara umum.
Secara logika, bila windows 7 benar-benar 100% tanpa browser, maka seharusnya tak akan ada jalan sama sekali untuk membuka menjelajah ke dunia maya. Teorinya, bagaimana caranya nanti bagi pengguna agar bisa mendownload aplikasi-aplikasi tertentu, baik browser (Firefox, Google Chrome, Opera, Safari, dll), FTP, dsb., kalau tak ada browser yang sudah terinstall (pre-installed) sebelumnya?
Memang ini bukan berarti tanpa solusi sama sekali. Secara teknis, pengguna yang berniat pindah ke Windows 7, tentu harus menyiapkan perkakas internet sebelumnya dan menyimpannya di hard-disk, CD/DVD, atau FlashDisk sebagai file master.
Sebagai ilustrasi, Toni adalah seorang pengguna Windows XP dan ingin mengganti OS-nya menjadi Windows 7. Maka sebagai persiapan awal, Toni harus mendownload terlebih dahulu minimal sebuah browser dan menyimpannya ke hard-disk. Baru setelah itu Toni dapat melakukan migrasi ke Windows 7 secara “aman” karena file master browser sudah tersimpan sebelumnya di hard-disk. Jadi, nantinya si Toni cukup install browsernya dari file master di hard-disk.
Beda lagi dengan Tina, adik Toni. Tina baru saja membeli laptop baru yang ber-OS-kan Windows 7. Ini artinya, Tina adalah murni pengguna baru Windows 7. Logikanya, karena ini laptop baru, maka belum ada file apapun di dalam hard-disk kecuali sistem Windows 7 itu. Tina akhirnya minta tolong ke Toni “Tolong dong, copy-in master browser ke hard-disk laptopku, biar Windows 7-nya bisa buat menjelajah internet”.
Nah, bila begitu ceritanya, paket Windows 7 tanpa browser dapat dipastikan akan mendatangkan polemik baru dikemudian hari.
Saya sendiri sih tidak yakin Microsoft akan benar-benar 100% rela melepas Windows 7 tanpa browser IE. Pasti akan ada suatu cara khusus yang sudah disiapkan sebelumnya agar pengguna bisa melakukan koneksi ke internet. Misalnya, menyiapkan sebuah piranti lunak khusus yang dapat digunakan untuk mendownload browser IE. Bisa jadi piranti lunak khusus itu akan dikemas sedemikian rupa hingga menjadi bagian dari perangkat (misalnya) Windows Update. Nantinyanya pengguna tinggal memilih opsi, katakanlah “Download Internet Explorer now!”. Nah, tentu ini akan jadi sangat mungkin menjadi masalah baru bila ternyata piranti khusus itu hanya dapat digunakan untuk mendownload browser IE.
Praktis, jalan menuju ke internet akan menjadi berliku, tidak bisa straight forward to the world wide web.
Ah, andai saja solusinya adalah semua browser disertakan saja ke dalam paket Windows 7, mungkin akan lebih fair hasilnya. Pengguna mau pilih apa terserah, tinggal pakai saja.
Hanya saja, apa ya mungkin Microsoft mau seperti itu? Amat sangat mustahil Microsoft sudi mengajak “musuh-musuhnya” untuk mensukseskan Windows 7.
Isu pornografi mengancam kehadiran Bing di Indonesia. Microsoft (sang pemilik Bing) cepat tanggap. Pencarian dengan kata kunci SEXY GIRL misalnya, langsung dijawab dengan pesan THE SEARCH SEXY GIRL MAY RETURN SEXUALLY EXPLICIT CONTENT. Bagaimana dengan Google? Saya sudah coba dengan kata kunci yang sama, tapi tidak ada peringatan serupa yang muncul. Terlebih bila pencarian dilakukan via Google Images, langsung foto-foto cewek sexy bertebaran.
Saya Biasa Pakai Multi Browser Sekaligus. Kenapa?
Awalnya terbiasa karena pekerjaan sebagai desainer web yang perlu dan harus menguji tampilan web di berbagai jenis browser. Faktor selanjutnya lebih karena selera dan mood. Terakhir, disebabkan oleh faktor keunggulan masing-masing browser, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan. Poin terakhir ini yang ingin saya utarakan di sini.
Firefox: Sifatnya yang multi fungsi (berkat addons-nya), akan jadi browser pilihan utama jika ingin lebih dari sekedar browsing. Misal, pengujian web dengan addons web developer, capture halaman web (pakai FireShot), Social Networking (misal update Twitter, Tumblr, dll lewat interface addons), dsb. Hanya saja, Firefox cenderung boros memori, jadi terasa berat. Saya tidak suka bila untuk sekedar browsing, kurang praktis.
Safari: Bagi saya, Safari adalah browser ternyaman untuk browsing. Cukup ringan untuk dijalankan, rendering font-nya yang smooth, tapi tetap tajam, menghadirkan kenyamanan tersendiri saat membaca artikel-artikel web. Perkakas downloadnya juga terbilang cepat dan bookmark manager-nya sangat nyaman dipakai. Kelemahannya, Safari cepat menyerah kalo koneksinya sedang tidak bagus.
Google Chrome: Browser yang paling ringan dan cepat. Interface-nya minimalis, jadi terlihat sangat lega. Kekurangannya ada pada fitur ekstra, seperti addons yang nyaris nol. Saya biasa pakai kalau untuk kebutuhan searching lewat Google atau disaat sedang menjalankan aplikasi berat lainnya.
Opera: Saya jarang pakai Opera. Namun sejak veri 10 Beta keluar, jadi agak sering juga. Kini Opera hampir seperti Firefox, memiliki dukungan Widgets (serupa Addons) yang membuat Opera jadi lebih dari sekedar browser. Integrasi email manager di versi 10 bahkan sudah terbilang baik. Sepertinya kini Opera bisa menjadi All in one browser. Hanya saja saya tidak begitu suka dengan fitur emailnya. Meski sangat mudah dpakai, tapi karena sudah terbiasa dengan Postbox dan Thunderbird, jadinya tidak terlalu berminat untuk pindah ke manager email yang lain. Ini murni faktor selera saja.
Bagaimana dengan Internet Explorer? Well, IE versi terakhir (IE 8) memang sudah jauh lebih bagus dan modern. Tapi karena secara pribadi tidak berselera, saya hampir tidak pernah memakainya dalam keseharian kecuali sebagai browser uji saja. Sekali lagi, ini semata-mata karena faktor selera.
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=ce159e25-84a1-415c-bc61-b4bf20902b4b)
Patrick Gunderson's Photostream ?
Patrick Gunderson is a designer, programmer and artist working in Los Angeles. He thinks with both sides of his brain when he works, creating complex projects which involve a combination of aesthetic and technical elements. He specializes in digital interactive mediums, but his traditional analog work reflects the sentiment of his digital work, taking apparent chaos and adding a sense of order.

